Senin, 16 April 2012

Tidak Semua yang Anda Tahu Harus Diucapkan

     Ini adalah sebuah nasehat penting bagi siapa saja yang diberi karunia ilmu oleh Allah. Tidak semua yang anda tahu harus diucapkan. Sebab,
setiap perkataan itu memiliki saat dan keadaan yang tepat untuk diucapkan. Mengetahui saja tidaklah cukup. Agar pengetahuan itu jatuh di tempat yang tepat, kita membutuhkan pemahaman. Yang terakhir, disebut para ulama dengan istilah fiqh.
     Waki' Bin Al-Jarrah seorang tabi'in besar merupakan guru dari Imam Asy-Syafi'i. Beliau pernah menasehati Imam Asy-Syafi'i yang kemudian nasehat tersebut diabadikan menjadi sebuah sya'ir yang terkenal :
Kumengadukan pada Waki' akan hafalanku yang buruk. Lalu ia menasehatiku agar tinggalkan maksiat. Karena ilmu adalah cahaya Allah. Dan cahaya itu takkan dikaruniakan pada pelaku maksiat.
     Sebab tak ada yang ma'shum selain Rasulullah, Waki' Bin Al-Jarrah ini pernah mengalami kejadian yang sangat menakutkan akibat tergelincir dalam sebuah masalah.
     Berikut kisahnya, ia pernah mendengarkan sebuah riwayat tentang kisah kematian Rasulullah. Kisah itu ia riwayatkan dari seorang yang bernama Ismail Bin Abi Khalid yang meriwayatkan dari 'Abdulah Al-Bahiyy yang mengatakan bahwa jenazah Rasulullah disemayamkan selama satu hari satu malam, hingga perut dan jari-jari beliau agak membengkak.
     Suatu ketika dalam sebuah majelinya di Mekkah, ia menyampaikan riwayat abdullah Al-Bahiyy tersebut; sebuah riwayat yang sesungguhnya adalah riwayat yang mungkar dan munqathi' (terputus). Akibat penyampaiannya, Mekkah pun gempar. Apalagi kalangan orang Quraisy. Mereka berkumpul dan bersepakat untuk menyalip Waki' yang dianggap melecehkan Rasulullah dengan meriwayatkan kisah tersebut.
     Ketika ia ditanya kenapa menyampaikan riwayat itu, ia mengatakan, "Beberapa orang sahabat, diantaranya 'Umar bin Al-Khattab tidak mempercayai bahwa Rasulullah mengalami kematian. Maka, berdasarkan riwayat tersebut Allah kemudian menunjukan kepada mereka beberapa tanda kematian, yaitu anggota tubuh yang menjadi bengkak."
     Sebuah alasan yang masuk akal. Namun, orang-orang Quraisy sudah terlanjur marah. Mereka telah menyiapkan kayu untuk menyalib Waki' Bin Al-Jarrah. Namun, pertolongan Allah segera menghampirinya. Di saat yang genting, muncul Sufyan bin 'Uyainah yang berteriak menghalangi orang Quraisy, "Demi Allah! Demi Allah! Jangan kalian lakukan itu! Ia adalah faqihnya orang Irak, ayahnya juga orang alim di sana. Sedangkan riwayat yang disampaikan itu adalah riwayat yang masyhur belum tentu shahih. Aku belum pernah mendengarkan riwayat itu sebelumnya. Aku hanya ingin menyelamatkan Waki'!"
     Demikianlah kisah Waki' Bin Al-Jarrah. Seperti kata seorang ahli sejarah yang besar, Adz-Dzahaby, "Kisahnya sungguh aneh. Ia sesungguhnya bermaksud baik. Namun sangat disayangkan kenapa ia tidak memilih diam dan tidak menyampaikan riwayat itu. Nabi telah mengatakan: "Cukuplah menjadi dosa bagi seorang bila ia membicarakan setiap apa yang ia dengarkan..."
     Maka sebagai kata-kata hikmah, "Bila tidak semua pengetahuan pantas terucapkan, maka tidak semua yang pantas diucapkan disetiap tempat, waktu, dan orang. Bagi yang berilmu, bersikap bijaklah."

1 komentar:

  1. Assalamu'alaikum. maaf mbak klo tidak keberatan boleh saya tahu rujukan atau referensi cerita di atas. Terima kasih.

    BalasHapus